Jumat, September 14, 2012

Bahasa Indonesia - Takhrijul Puisi Buku Puisi Bustan Basir Maras "Mata air mata darah"


PENGARUH NILAI PANCASILA TERHADAP PUISI
BUSTAN BASIR MARAS
DALAM BUKU PUISI MATA AIR MATA DARAH
Makalah

Disusun dan Diajukan
Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester I
pada Matakuliah Bahasa Indonesia



Oleh
ARDA DWI RAHAYU (1123101033)
DAKWAH/ 1 BKI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
PURWOKERTO
2012



BAB I
PENDAHULUAN

Kritik sastra memiliki peran sebagai jalan penghubung antara penikmat sastra dengan sastrawan. Kritikus sastra memiliki sumbangan dalam bidang pemikiran dan analisis yang bisa menimbukan minat baca penikmat sastra terhadap sastra tersebut.disini kritikus sastra berperang sebagai pemandu dalam menikmati sastra.

Kritik sastra dapat pula difungsikan sebagai panduan bakat bagi penulis sastra muda dan dapat mematangkan penulis yang sudah lebih dahulu berkecimpung dalam dunia sastra.
Dalam mengemban tugas sebagai kritikus sastra seorang kritikus dituntut memiliki rasa tanggung jawab dan kejujuran terhadap proses kritik terhadap sastra tentunya bersumber pada hati nuraninya sendiri.
Kreatifitas sastra beratmosirkan ruang sosial yang mampu mempengaruhi pergerakan masyarakat penikmat sastra pada jamannya.disadari atau tidak sastra yang muncul banyak dipengaruhi oleh keadaan politik, dan ini menimbulkan apresiasi masyarakat terhadap perubahan-perubahan politik yang tidak normal.
Politik Indonesia berarti membincangkan Orde Baru dan Reformasi sama halnya membahas tentang warna Pancasila, dan membahas tentang pancasila tidaklah lengkap tanpa melihat lebih dalam apa itu Pancasila. Dalam konteks kenegaraan Indonesia, pancasila diposisikan sebagai suatu asas kerihanian negara, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma, dan kaidah baik moral maupun hukum dalam negara.
Jika kita tarik kebelakang saat gulingnya rezim Suharto unsur Pancasila dalam hal ini persatuan sangat menjadi penentu keberhasilan perubahan. Disisi lain perkembangan sastra sangat kental menyuarakan semangat persatuan dan semangat Pancasila Bukan hanya sebagai sastra belaka namun didalamnya terkandung suara suara rakyat tentang dasar negara yang dapat dijadikan sebagai bahan bakar semangan reformasi bangsa.
Muncul sebuah nama sastrawan lintas pergerakan Bustan Basir Maras sastrawan yang gencar membakar semangat pergerakan jiwa muda Indonesia melalui puisi-puisinya yang bernada pancasilais.seberapa dekatkan pancasila dengan Bustan Basir Maras dapat dilihat dari puisi puisinya dalam buku Mata Air Mata Darah.
BAB II
PEMBAHASAN

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang didalamnya berisikan lima dasar rumusan asas dasar negara yang rumusannya sebagai berikut:
1.      Ketuhanan yang Maha Esa.
2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3.      Persatuan Indonesia.
4.      Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5.      Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Berikut ini dijelaskan secara singkat pengaruh luhur nilai Pancasila dalam karya-karya Bustan Basir Maras

1.      Faktor Ketuhanan
Dalam berbangsa dan bernegara dewasa ini terutama setelah runtuhnya rezim Orde Baru[1], bangsa Indonesia sebagai bangsa harus memiliki visi serta pandangan hidup yang kuat agar tidak terombang ambing di tengah-tengah masyarakat internasional. (H.Kaelen, 2010:13)
Dimasa peralihan orde baru ke masa Reformasi seperti sekarang ini, demonstrasi dijadikan sebagai alat perubahan. Melalui demonstrasi suara rakyat disampaikan ke muka umum yang harapannya akan mendapatkan respon positive dari pemimpin bangsa. Tak tertinggal sebait puisi dari “Doa Seorang Demonstran” mengiringi demonstrasi mereka
tuhanku
genggamlah
setiap gelora-gelora di dadaku ini
lalu hempaskanlah
segala duka di negeri
yang karam ini

Tidaklah terlalu jelas jika hanya membaca sepengal puisi ini namun disini tersirat betapa menyedihkan keadaan Indonesia saat itu yang duka. Membaca kata karam mengingatkan masa 1998 saat Indonesia terjebak dalam krisis moneter.
Dalam do’a itu mengisyaratkan kepada rakyat untuk berjiwa pancasila yang berketuhanan.
dan di luar
anak-anakmu bersarang di kegelapan
di tubuhnya bersarang timah panas-peluru ganas
jantung melepuh, darahnya menggenangi kota-kota

Demi sebuah kata Reformasi anak-anakmu berjuang,bergotongroyong, berduyun-duyun turun kejalan menghadang peluru. Menandakan sifat partiotis yang ini merupakan bagian dari sila ketuhanan.




di negerimu yang kuburnya dilingkupi pinus
anak-anak memikul tandu-tandu
bertasbih di antara pohon bambu-bambu
melayat ke kubur bangsanya sendiri
walau malu-malu, namun mereka
tak pernah ragu

Secara semiotika kata tandu, kubur dan melayat menjelaskan tentang sebuah kematian yang menimpa pejuang bangsa, kematian ini menunjukan adanya kekuasaan tuhan tentang hidup dan matinya umat.
2.      Faktor kemanusiaan
Didasari sila ketuhanan maka sila kemanusiaan muncul dan diangkat sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi puisi-puisi karya Bustan Basir Maras, karena hakikatnya manusia adalah makhluk Tuhan yang Maha Esa sehingga sila kedua ini haruslah berdasarkan pada sila pertama yakni sila ketuhanan yang Maha Esa. (H.Kaelen, 2010:64)
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil. Hal ini mengandung pengertian bahwa hakikat manusia harus adil dalam hubungan dengan diri sendiri, adil terhadap manusia lain, adil terhadap masyarakat bangsa dan negara, adil terhadap lingkungan serta adil terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Konsekuensinya nilai yang terkandung dalam kemanusiaan yang adil dan beradab adalah menjunjung tinggi harkat manusia yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, menghargai atas kesamaan hak dan derajat tanpa membedakan suku, ras, keturunan, status sosial maupun agama.
Kemudian seperti apa pengaruh aspek kemanusiaan yang didasarkan pada ketuhanan ini dalam sastra karya Bustan Basir Maras terangkai dalam bait puisi berjudul “Dilema Kehidupan”
sebab itu
kucari hutan dan juga
rimba belantara
sebab disini, kuda-kuda dilepas begitu saja
seperti ikan-ikan di samudra luas
dan juga di sungai yang deras
berlari bebas, menyingsing dan terhampar
di padang-padang hijau
hingga ke tepi hutan belantara
yang rimbun sekalipun

Pemaknaan secara awam tidaklah merasakan betapa Bustan Basir Maras menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam puisi tersebut, namun jika diartikan secara lebih dalam dengan metode metafora[2].
Contoh konkretnya ialah pemaknaan kuda-kuda dilepas begitu saja dimaksudkan ialah manusia yang bebas menentukan jalannya sendiri atau lebih tepatnya dibebaskan melakukan hak-haknya sebagai manusia.kemudian dilanjutkan kebaris berikutnya yang muncul klimat “Seperti ikan-ikan di samudra luas” ini menunjukan penyamaan hak dari kuda dan ikan meskipun ada perbedaan tempat.

3.      Faktor  Persatuan
Membahas tentang persatuan bangsa tidak lengkap tanpa membawa nama Gajah mada yang bersumpah mempersatukan nusantara dalam satu haluan majapahit.(Slamet muljana,2005:249)
Selaras dengan bustab basir maras persatuab juga menjadi sumber inspirasinya dalam bersastra seperti yang tertuang dalam puisi “orang-orang jurug” terlihat dalam bait kedua

maka kuatkanlah pada mereka
datanglah!
mari kita obati sesama luka
kita basuh peluh dan darah di pipi yang legam
lalu kita kubur di tanah yang sama

Dalam potongan puisi ini benar benar terasa persatuannya saat membaca “mari kita obati sesama luka” bayangkan dalam pengobatanpun dilakukan secara bersama sama. Tidak hanya itu sampai sanpai saat matipun dikuburkan dalam tanah yang sama.



4.      Faktor Kerakyatan
Dalam kerakyatan ini terdapat kepemimpinan yang dipegang oleh rakyat membahas mengenai kekuasaan mengarahkan penulis pada sebuah kata bijak yang dikatakan oleh Robert Haris yang berbunyi “kalau kau ingin kekuasaan ada saatnya kekuasaan harus kau rebut” (Eko prasetyo,2009:iv)
Hakikatnya rakyat merupakan sekelompok manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa yang bersatu dan bertujuan mewujudkan harkat dan martabat manusia dalam suati wilayah.(kaelan,2010:82)
Jiwa pemimpin dan pemersatu dalam diri Bustan Basir Maras terlihat dalam puisi “kamar kecil Nusantara” tepatnya bait ke empat
Indonesia
Ya, Indonesiaku!
Bangkitlah dari tidur panjangmu
Yang selalu digerogoti rayap-rayap zaman
Kepalkan tinjumu ke cakrawala
Mari, hai, kemarilah!
Kita berdiri ditanah  yang sama
           
Kata bangkitlah dari tidur pajangmu bernadakan ajakan melawan setelah lama terdiam dibawah penguasa. Seolah mengajak melawan dengan mengepalkan tangan berdiri bersama melawan penindasan.dari sini pembaca dibawa ke dalam “Sajak untuk Kawan R”2” tepatnya bait terakhir yang terasa membakar semangat.
Maka susunlah barisan
Tegap dan garang didepan
Berdirilah di barisan pertama
Tetap, tentang matahari-cakrawala
Dan teriakan saja yang lantang
Engkau kawanku:
“mendidik rakyat dengan pergerakan
Mendidik penguasa dengan perlawanan”[3]

5.      Faktor Keadilan
Menurut John Rawls, keadilan merupakan suatu nilai yang mewujudkan keseimbangan antara bagian-bagian dalam kesatuan, antara tujuan pribadi dan tujuan bersama.(Theo huijbers, 1988:198) kemudian kaitannya dengan Pancasila nilai keadilan  ini harus mewujudkan kesejahteraan seluruh warga negara serta adil melindungi warganya dan seluruh wilayah pemerintahannya dan tidak kalah penting mencerdaskan seluruh warganya. Demikian pula nilai keadilan tersebut sebagai dasar pergaulan sosial dalam masyarakat itu sendiri dan yang demikian itu yang dinamakan dengan keadilan sosial.(H.Kaelen, 2010:84)
Bustan Basir Maras menunjukan keadilan pada potongan bait “Darah Anak-Anak Tuhan”
Mereka menadahkan tangan
Mulut mereka berkata-kata
Yang dianggap adil adalah keseimbangan antara tangan yang menegadah mengharapkan sesuatu, dan diiringi kata-kata yang keluar dari mulut berupa doa
“Berilah kami buku dan pena,juga
hutan rimbun dan samudera lepas
agar kami lebih punya arti!”

sekali lagi muncul kalimat yang mengarah ke kandungan dari keadilan yakni masuk dalam ranah mencerdaskan warga negara, yang muncul melalui kata buku dan pena.



BAB III
PENUTUP

Dari beberapa bukti yang mengarah pada dugaan awal kepada Bustan Basir Maras(Sulawesi Selatan, 12 september 1979) dalam hatinya yang pernah bergabung dengan Sanggar Studi Sastra Dan Teater Sila (SSST SILA) ini, memiliki kecenderungan mencari inspirasi dari kandungan dalam dasar Negara Republik Indonesia
Hal yang senada terbukti dalam buku kumpulan puisinya berjudulkan Mata Air Mata Darah yang didalamnya terangkum  ouisi Bustan Basir Maras sejak tahun 1998 hingga tahun 2002, yakni masa dimana gejolak pemberontakan Orde Baru dan masa uji coba Reformasi pemerintahan Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
Basir Maras, Bustan. 2004. Mata Air Mata Darah. Yogyakarta: Bukulaela.
Huijbers, Theo. 1988. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah,Yogyakarta: Kanisius.
Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Muljana, Slamet. 2005. Menuju Puncak Kemegahan Sejarah Majahit. Yogyakarya: LKiS Yogyakarta
Prasetyo, Eko. 2009. Kaum Miskin Bersatulah. Yogyakarta: Nailil Printika.
Wachid B.S., Abdul. 2010.  Analisis Struktural Semiotik. Yogyakarta: Cinta Buku.



[1] Masa kepemimpinan presiden Suharto
[2] Metafora merupaka sebuah gaya bahasa kiasan yang digunakan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung, yaitu menyatakan sesuatu yang berarti makna lain.(Abdul Wachid B.S,2010:76)
[3] Sebuah slogan yang sering di ucapkan kawan-kawan dari KMPD

Tidak ada komentar: